TIDAK ADA HOAX DIANTARA KITA !
Sumber gambar : Google
Di zaman kecepatan ini teknologi semakin berkembang.
Kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat. Caranya mudah. Kita hanya
menggerakan jempol, mencari kata kunci yang ingin kita tahu, lalu mengkliknya. Taraaaa! informasi tersedia.
Terkadang tidak semua pencari informasi itu bijak.
Ada yang mencarinya lebih dalam untuk mengetahui kebenarannya dan ada pula yang
hanya melihat satu sumber lalu menyebarkan tanpa mengkonfirmasi kebenarannya.
Hal seperti itu bisa mengakibatkan tersebarnya
informasi palsu atau hoax bertebaran
dimana-mana. Apalagi tahun 2019 ini adalah tahun politik. Pemilihan calon
presiden dan wakil presiden sudah di depan mata. Para pendukung pasangan calon
atau paslon saling mencari kesalahan paslon lawannya.
Mereka sangat mencintai
dan menginginkan paslonnya duduk di kursi pemerintahan Indonesia.
Kecintaan yang timbul di dalam benak para pendukung
paslon itu mengakibatkan mereka menutup diri dan hanya ingin memuji, mengagung-agungkan
paslonnya. Jika ada kabar buruk tentang pesaingnya mereka langsung menyebarkan,
padahal kabar tersebut belum tentu kebenarannya.
Banyak sekali dampak yang timbul ketika berita
bohong tersebar. Bukan hanya merugikan paslon pesaing tapi juga membuat persatuan
dan kesatuan bangsa ini berkurang.
Kita sebagai rakyat Indonesia harusnya sadar betapa
pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan, bukan malah membuat perang dingin di
negara sendiri.
Menurut Kementrian Komunikasi dan Informatika RI, terdapat
800.000 situs yang diduga menjadi produsen virus hoax, berita palsu dan ujaran kebaikan. Lalu, terdapat tiga
aplikasi di Indonesia yang paling banyak menyebarkan hoax, yaitu Facebook 82,5 persen, Whatsapp 56,55 persen, dan
Instagram sebesar 29,48 persen. Sangat disayangkan bukan?
Media sosial memang sudah menjadi makanan
sehari-hari bagi manusia zaman sekarang. Setiap detik, menit, jam berganti hari
pasti banyak sekali informasi-informasi yang didapatkan oleh Warga internet.
Warga internet atau yang biasa disebut netizen itu seharusnya dapat menggunakan
internet dengan bijak bukan malah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam hal
yang bisa mengakibatkan penyakit hati.
Penyakit hati seperti saling fitnah, menghujat,
menyombongkan diri, beradu argumen seolah-olah sudah tidak asing lagi kita
dengar belakangan ini.
Dikutip dari opini Lukman hakim saifudin Menteri
Agama RI tentang melawan hoax, Bahwa bahkan
iblis yang dulunya sangat taat kepada Allah SWT. Diusir hanya karena mereka iri
kepada nabi adam dan mereka merasa mereka lah yang paling mulia. Hati iblis pun diliputi
rasa sombong dan kesombongannya lah yang menjatuhkannya. Apakah kita ingin di samakan dengan iblis?
Hoax yang berkaitan dengan Pemilu 2019 ini sudah banyak
sekali. Terdapat 62 konten hoax yang diidentifikasi
oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika selama agustus-desember 2018.
Pada Agustus 2018, terdapat 11 konten hoax. Menurun pada September 2018, yaitu
8 konten hoax. Jumlah itu naik
kembali pada Oktober 2018 yaitu terdapat 12 konten hoax. Sementara pada November 2018 terindentifikasi 13 konten hoax. Konten hoax
paling banyak teridentifikasi pada Desember 2018, yaitu 18 konten.
"Kementerian
Kominfo mengajak seluruh masyarakat melakukan pengecekan dan penyaringan dulu
sebelum menyebarkan informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya," kata Ferdinandus dalam keterangan tertulisnya.
Netizen
harus sadar betapa pentingnya berlaku bijak dalam menggunakan media sosial.
Boleh saja kita memenangkan atau mengunggulkan salah satu pasangan calon tetapi
harus bisa memilah dan memilih informasi.
Jangan
hanya karena berbeda pendapat dan menginginkan paslonnya menang lalu segala
cara dilakukan untuk menjatuhkan pasangan calon lain.
Kita
ini adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia, mempunyai semboyan Bhineka
Tunggal Ika. Perbedaan adalah hal yang indah, jangan sampai kita menghancurkan
keindahan tersebut.
Biasanya
ketika netizen tidak berhati-hati dalam menerima informasi maka netizen pun
akan mudah termaka tipuan hoax bahkan
ikut menyebarkan berita bohong tersebut. Lalu bagaimana cara kita untuk tidak
terhasut ?
Terdapat
beberapa cara yang terlansir pada halaman kompas.com, Minggu (8/1/2016), Ketua
Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji
Eko Nugroho mengemukakan lima langkah sederhana yang bisa membantu untuk
membedakan mana berita hoax dan
berita asli, berikut penjelasannya :
1.
Hati-hati dengan judul provokatif
Berita
hoax sering menggunakan judul yang
provokatif yang mana menyudutkan salah satu pihak. Isinya diambil dari berita
resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang diinginkan
pembuat hoax.
Oleh
karena itu, sebaiknya kita mencari referensi berupa berita serupa di situs
online resmi, kemudian bandingkan isinya. Dengan demikian, kita sebagai pembaca
bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.
2.
Cermati Alamat Situs
Ketika
kita mendapatkan sebuah informasi pastikan terlebih dahulu apa sumbernya.
Jika menggunakan internet pastikan berita itu bukan dari laman berdomain blog karena informasinya bisa dibilang meragukan.
Jika menggunakan internet pastikan berita itu bukan dari laman berdomain blog karena informasinya bisa dibilang meragukan.
3.
Periksa Fakta
Kita
harus memperhatikan siapa sumbernya apakah dari KPK atau Polri. Sebaiknya
jangan mudah percaya apabila informasi tersebut berasal dari pegiat ormas,
tokoh politik,atauu pengamat.
4.
Cek Keaslian Foto
Di
zaman teknologi ini, bukan hanya teks yang dapat dimanipulasi tapi juga video
atau foto dapat dimanipulasi. Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan
memanfaatkan mesin pencari seperti google yakni dengan melakukan drag and drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan
menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa
dibandingkan.
5.
Ikut serta grup diskusi anti hoax
Di
media sosial contohnya di Facebook terdapat sejumlan fanpage dan grup anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut,
dan Hoax (FAFHH), Fanpage dan Group
Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.
Di
grup-grup diskusi ini kita dapat menanyakan apakah suatu informasi itu hoax atau tidak. Selain itu kita juga
dapat melihat klarifikasi tentang suatu informasi yang diberikan oleh orang
lain.
Itulah beberapa cara agar tidak terhasut dari hoax. Mari kita basmi hoax sampai ke akar-akarnya. Pada dasarnya semua itu bermula dari kesadaran diri sendiri. Bijaklah dalam membuat dan menyebarkan informasi. Pemilu 2019 akan sukses jika kita dapat bekerjasama untuk melawan hoax. TIDAK ADA
DAFTAR PUSTAKA
Sumber
: https://news.detik.com/berita/4368351/62-hoax-pemilu-2019-teridentifikasi-kominfo-ini-daftarnya

Sangat bermanfaat, terimakasih infonya...
BalasHapusAlhamdulillah. Samasama
HapusWah sangat bermanfaat sekali infonya, terima kasih dan sukses selalu!
BalasHapusAlhamdulillah. Terimakasih sukses juga.
HapusTerimakasih atas infonya,artikel ini sangat bermanfaat sekali
BalasHapusWahhh terimakasih.
Hapus